TIMES MOROTAI, JAKARTA – Makanan pedas kerap dipilih karena sensasi hangat dan rasa yang menggugah selera. Namun di balik itu, makanan pedas juga dikaitkan dengan berbagai manfaat kesehatan, termasuk pengaruhnya terhadap metabolisme tubuh. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi pada metabolisme saat kita mengonsumsi makanan pedas? Berikut ulasannya.
Kandungan Pedas dan Manfaat Kesehatan
Senyawa utama yang membuat makanan terasa pedas adalah capsaicin, yang banyak ditemukan pada cabai seperti jalapeño, serrano, dan habanero. Menurut Patricia Bannan, ahli gizi dan penulis buku From Burnout to Balance, capsaicin berkaitan dengan berbagai efek positif bagi tubuh.
“Capsaicin dikaitkan dengan penurunan peradangan, perbaikan sirkulasi darah, pengaturan nafsu makan, serta potensi manfaat bagi kesehatan jantung,” ujar Bannan.
Sejumlah penelitian menunjukkan capsaicin dapat membantu menurunkan kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL) pada penderita sindrom metabolik. Pada perempuan, senyawa ini juga dikaitkan dengan penurunan kadar trigliserida. Selain itu, konsumsi makanan pedas secara rutin juga dikaitkan dengan proses penuaan biologis yang lebih lambat, terutama yang berhubungan dengan metabolisme dan fungsi ginjal.
Para peneliti menilai sifat antiinflamasi dan antioksidan pada makanan pedas berperan penting dalam mendukung kesehatan jangka panjang. Dari sisi pola makan, rasa pedas juga dapat membantu meningkatkan cita rasa makanan sehat tanpa perlu tambahan garam atau gula berlebih.
Apa Pengaruh Makanan Pedas terhadap Metabolisme?
Metabolisme adalah proses tubuh mengubah makanan dan minuman menjadi energi. Saat mengonsumsi makanan pedas, metabolisme dapat sedikit meningkat melalui mekanisme yang disebut termogenesis—proses produksi panas tubuh yang membakar kalori.
“Capsaicin memicu peningkatan kecil dan sementara pada pembakaran kalori serta dapat meningkatkan oksidasi lemak,” jelas Bannan. Artinya, tubuh membakar sedikit lebih banyak energi setelah mengonsumsi makanan pedas dibandingkan makanan biasa.
Meski demikian, efek ini tidak berlangsung lama dan besarnya relatif kecil. Beberapa studi juga menunjukkan hasil yang beragam, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memastikan dampak jangka panjangnya terhadap berat badan dan obesitas.
Ia juga menegaskan bahwa makanan pedas bukan solusi instan untuk meningkatkan metabolisme. “Manfaat metabolik terbesar tetap berasal dari pola makan seimbang, asupan protein yang cukup, aktivitas fisik—terutama latihan kekuatan—tidur berkualitas, dan pengelolaan stres,” ujarnya.
Makanan pedas dapat memberikan dorongan kecil bagi metabolisme sekaligus menawarkan berbagai manfaat kesehatan lain. Namun, efeknya bersifat pendukung, bukan utama. Mengombinasikan konsumsi makanan pedas dengan gaya hidup sehat tetap menjadi strategi terbaik untuk menjaga metabolisme dan kesehatan tubuh secara menyeluruh. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Makan Pedas Bisa Tingkatkan Metabolisme? Fakta dan Penjelasannya
| Pewarta | : Rochmat Shobirin |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |